MAKALAH
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
OLEH:
SULFADLI
02120110017
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2012
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas
segala rahmat dan karuniah-Nya, sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
Makalah ini menyajikan tulisan tentang Indonesia menuju masyarakat madani
khususnya kajian tentang peluang dan tantangan.
Masyarakat madani akan terwujud manakala terjadi
tatanan masyarakat yang harmonis, yang bebas dari eksploitasi dan penindasan.
Pendek kata, masyarakat madani ialah kondisi suatu komunitas yang jauh dari
monopoli kebenaran dan kekuasaan. Mungkinkah hal ini terjadi di Indonesia ?
Sehubungan dengan hal itu, melalui tugas ini saya
mencoba untuk mengkaji dan mengamati lebih jauh mengenai kemungkinan
terwujudnya masyarakat madani di Indonesia. Semoga makalah ini dapat membantu
dan bermanfaat untuk lebih memahami mengenai bagaimana peluang dan tantangan
yang dihadapi oleh Indonesia dalam mewujudkan masyarakat madani.
Makassar, 25 Mei 2012
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
Kehidupan
sehari-hari seorang eksekutif, manajer, kepala, ketua, direktur, rektor,
bupati, gubernur, menteri, panglima, presiden, atau pejabat apapun,
sesungguhnya adalah kehidupan yang selalu bergumul dengan keputusan. Sering
kali ia merasa hampa apabila dalam satu hari tidak mengmbil suatu keputusan.
Tidak menjadi soal apakah keputusan itu benar atau mengandung kelemahan. Oleh
sebab itu banyak manajer yang berpendapat bahwa lebih baik membuat enam
kesalahan dari sepuluh keputusan yang ia buat daripada sama sekali tidak
membuat keputusan. Bagi pejabat tersebut yang paling penting timbul rasa
kepuasan karena dapat mengmbil keputusan hari itu.
Ilustrasi itu menggambarkan bahwa
pengambilan keputusan adalah aspek yang paling penting dalam aspek manajemen.
Keputusan merupakan kegiatan sentral dari manajemen, merupakan kunci
kepemimpinan, atau inti kepemimpinan (Siagian, 1988), sebagai suatu
karakteristik yang fundamental, sebagai jantung kegiatan administrasi
(Mitchell, 1978), suatu saat kritis bagi tindakan administrasi (Robins, 1978).
Bahkan Higgins (1979) melanjutkan bahwa pengambilan keputusan adalah kegiatan
yang paling penting dari semua kegiatan karena di dalamnya manajer terlibat.
|
|
BAB II
PENGAMBILAN PEMUTUSAN
A. Pengertian Pengambilan
Keputusan
Sebelum
mulai dengan mengemukakan definisi pengambilan keputusan, maka perlu
disampaikan lebih dulu tentang apa pengertian keputusan itu.
1.
Menurut Ralp C. Davis
Keputusan
adalah hasil pemecahan yang dihadapinya dengan tegas. Suatu keputusan
merupakan jawaban yang pasti terhadap suatu pertanyaan. Keputusan harus dapat
menjawab pertanyaan tentang apa yang dibicarakan dalam hubungannya dengan
perencanaan. Keputusan dapat pula berupa tindakan terhadap pelaksanaan yang
sangat menyimpang dari rencana semula.
2.
Menurut Mary Follet
Keputusan
adalah suatu atau sebagai hukum situasi. Apabila suatu fakta dapat diperolehnya
dan semua yang terlibat, baik pengawas maupun pelaksana mau mentaati hukumnya
atau ketentuannya, maka tidak sama dengan mentaati perintah. Wewenang tinggal
dijalankan, tetapi itu merupakan wewenang dari hukum situasi.
3.
Menurut James A.F.Stoner
Keputusan adalah pemilihan di antara
alternatif- alternatif
- Ada pilihan atas dasar logika atau pertimbangan.
- Ada beberapa alternatif yang harus dan dipilih salah satu yang terbaik.
- Ada tujuan yang ingin dicapai, dan keputusan itu makin mendekatkan pada tujuan tersebut.
4.
Menurut Prof. Dr. Prajudi Atmosudirjo, SH
Keputusan
adalah suatu pengakhiran daripada proses pemikiran tentang suatu masalah atau
problema untuk menjawab pertanyaan apa yang harus diperbuat guna mengatasi
masalah tersebut, dengan menjatuhkan pilihan pada suatu alternatif.
Dari
pengertian- pengertian tersebut di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa
keputusan merupakan suatu pemecahan masalah sebagai suatu hukum situasi yang
dilakukan melalui pemilihan satu alternatif dari beberapa alternatif (Hasan,
2002: 9) Setelah mengetahui definisi dari keputusan maka selanjutnya akan
dikemukakan definisi dari pengambilan keputusan.
1.
Menurut George R. Terry
Pengambilan
keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua
atau lebih alternatif yang ada.
2.
Menurut S.P. Siagian
Pengambilan
keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap perhitungan
alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan
merupakan tindakan yang paling tepat
3.
Menurut Jemes A.F Stoner
Pengambilan
Keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai
cara pemecahan masalah.
4.
Menurut Ibnu Syamsi
Pengambilan
keputusan adalah tindakan pimpinan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam
organisasi yang dipimpinnya dengan melalui satu diantara alternatif- alternatif
yang memungkinkan.
Selain
beberapa pengertian di atas, pengambilan keputusan itu juga berarti proses
memilih suatu alternatif cara bertindak dengan metode yang efisien sesuai
dengan situasi (Salusu, 1996: 47). Proses ini untuk menemukan dan menyeleseikan
masalah organisasi. Pernyataan ini menegaskan bahwa mengambil keputusan
memerlukan satu seri tindakan, memerlukan beberapa langkah. Dapat saja
langkah-langkah tersebut terdapat dalam pikiran seseorang yang sekaligus
mengajaknya berfikir sistematis. Dalam dunia manajemen proses atau seri
tindakan itu lebih banyak tampak dalam kegiatan diskusi.
Dari
pengertian- pengertian pengambilan keputusan di atas, dapat disimpulkan bahwa
pengambilan keputusan merupakan suatu proses pemilihan alternatif terbaik dari
beberapa alternatif secara sistematis untuk ditindaklanjuti (digunakan) sebagai
suatu cara pemecahan masalah.
Persoalan
pengambilan keputusan, pada dasarnya adalah bentuk pemilihan dari berbagai
alternatif tindakan yang mungkin dipilah yang prosesnya melalui mekanisme
tertentu, dengan harapan akan menghasilkan sebuah keputusan yang terbaik
(Wahab, 2008: 163). Penyusunan model keputusan adalah salah satu cara untuk
mengembangkan hubungan- hubungan logis yang mendasari persoalan keputusan ke
dalam suatu model matematis, yang mencerminkan hubungan yang terjadi di antara
faktor- faktor yang terlibat. Apapun dan bagaimana pun prosesnya, satu tahapan
yang paling sulit dihadapi pengambilan keputusan adalah dalam segi penerapannya
karena di sini perlu meyakinkan semua orang yang terlibat, bahwa keputusan
tersebut memang merupakan pilihan terbaik. Semuanya akan merasa terlibat dan
terikat pada keputusan tersebut. Hal ini, adalah proses tersulit. Walaupun
demikian, bila hal tersebut dapat disadari, proses keputusan secara bertahap,
sistematik, konsisten, dan dalam setiap langkah sejak awal telah mengikut
sertakan semua pihak, maka usaha tersebut dapat memberikan hasil yang terbaik.
B. Fungsi dan Tujuan Pengambilan
Keputusan
Pengambilan
keputusan sebagai suatu kelanjutan dari cara pemecahan masalah memiliki fungsi
antara lain sebagai pangkal permulaan dari semua aktivitas manusia yang sadar
dan terarah, baik secara individual maupun secar kelompok, baik secara
institusionalnya maupun secara organisasional. Selain itu pengambilan keputusan
juga merupakan sesuatu yang bersifat futuristik, artinya bersangkut paut
dengan hari depan, masa yang akan datang, di mana efeknya atau pengaruhnya
berlangsung cukup lama. Kegiatan- kegiatan yang dilakukan dalam organisasi itu
dimaksudkan untuk mencapai tujuan organisasinya. Yang diinginkan semua kegiatan
itu dapat berjalan lancar dan tujuan dapat tercapai dengan mudah dan efisien.
Namun kerap kali terjadi hambatan- hambatan dalam melaksanakan kegiatan. Ini
merupakan masalah yang harus diselesaikan oleh pimpinan organisasi. Pengambilan
keputusan dimaksudkan untuk memecahkan masalah tersebut. Kerap kali pengambilan
keputusan itu hanya merupakan satu segi saja, misalnya hanya menyangkut segi
keungan saja dan kalau dipecahkan tidak menimbulkan efek sampingan atau akibat
lain. Tetapi ada kemungkinan dapat saja terjadi masalah yang pemecahannya
menghendaki dua hal kontradiksi terpecahkan sekaligus (Syamsi, 2000: 5).
Oleh karena itu tujuan pengambilan
keputusan itu dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
- Tujuan yang bersifat tunggal
Tujuan pengambilan keputusan yang
bersifat tunggal terjadi apabila keputusan yang dihasilkan hanya menyangkut
satu masalah, artinya bahwa sekali diputuskan, tidak akan ada kaitannya dengan
masalah lain.
2.
Tujuan yang bersifat ganda
Tujuan pengambilan keputusan yang
bersifat ganda terjadi apabila keputusan yang dihasilkan itu menyangkut
lebih dari satu masalah, artinya bahwa satu keputusan yang diambil itu
sekaligus memecahkan dua masalah (atau lebih), yang bersifat kontradiktif atau
yang tidak bersifat kontradiktif.
3. Dasar- Dasar Pengambilan
Keputusan
Dasar
pengambilan keputusan itu bermacam- macam tergantung dari permasalahannya.
Keputusan dapat diambil berdasarkan perasaan semata- mata, dapat pula keputusan
dibuat berdasarkan rasio. Tetapi tidak mustahil, bahkan banyak terjadi terutama
dalam lingkungan instansi pemerintah maupun di perusahaan, keputusan diambil
berdasarkan wewenang yang dimilikinya.
Oleh George R. Terry, disebutkan
dasar- dasar dari pengambilan keputusan yang berlaku adalah sebagai berikut.
- Intuisi
Pengambilan keputusan yang
berdasarkan atas intuisi atau perasaan memiliki sifat subjektif, sehingga mudah
terkena pengaruh. Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi ini mengandung
beberapa kebaikan dan kelemahan.
Kebaikannya antara lain sebagai
berikut.
- Waktu yang digunakan untuk mengambil keputusan relatif lebih pendek.
- Untuk masalah yang pengaruhnya terbatas, pengambilan keputusan akan memeberikan kepuasan pada umumnya.
- Kemampuan mengambil keputusan dari pengambil keputusan itu sangat berperan, dari itu perlu dimanfaatkan dengan baik.
Kelemahannya antara lain sebagai
berikut.
- Keputusan yang dihasilkan relatif kurang baik.
- Sulit mencari alat pembandingnya, sehingga sulit diukur kebenaran dan keabsahannya.
- Dasar- dasar lain dalam pengambilan keputusan sering kali diabaikan.
- Pengalaman
Pengambilan keputusan berdasarkan
pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis. Karena pengalaman
seseorang dapat memperkirakan keadaan sesuatu, dapat memperhitungkan untung dan
ruginya, baik- buruknya keputusan yang akan dihasilkan. Karena pengalaman,
seseorang yang menduga masalahnya walaupun hanya dengan melihat sepintas saja
mungkin sudah dapat menduga cara penyelesaiannya.
- Fakta
Pengambilan keputusan berdasarkan
fakta dapat memberikan keputusan yang sehat, solid, dan baik. Dengan fakta,
maka tingkat kepercayaan terhadap pengambil keputusan dapat lebih tinggi,
sehingga orang dapat menerima keputusan dengan rela dan lapang dada.
- Wewenang
Pengambilan keputusan berdasarkan
wewenang biasanya dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya atau orang yang
lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah kedudukannya.
Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang juga memiliki beberapa kelebihan dan
kelemahan.
Kelebihannya antara lain sebagai
berikut.
- Kebanyakan penerimanya adalah bawahan, terlepas apakah penerimaan tersebut secara sukarela ataukah secara terpaksa.
- Keputusan dapat bertahan dalam jangkia waktu yang cukup lama.
- Memiliki otentisitan (otentik).
Kelemahannya antara lain adalah
sebagai berikut
- Dapat menimbulkan sifat rutinitas.
- Mengasosiasikan dengan praktek diktatorial.
- Sering melewati permasalahan yang sehatusnya dipecahkan sehim\ngga dapat menimbulkan kekaburan.
- Rasional
Pada pengambilan keputusan yang
berdasar pada rasional, keputusan yang dihasilkan bersifat obyektif, logis,
lebih trasparan, konsisten untuk memaksimumkan hasil atau nilai dalam batas
kendala terentu, sehingga dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sesuai
dengan apa yang diinginkan. Pada pengambilan keputusan secara rasional ini
terdapat beberapa hal, sebagai berikut.
- Kejelasan masalah: tidak ada keraguan dan kekaburan masalah.
- Orientasi tujuan: kesatuan pengertian tujuan yang ingin dicapai.
- Pengetahuan alternatif: seluruh alternatif diketahui jenisnya dan konsekuensinya.
- Preferensi yang jelas: alternatif bisa diurutkan sesuai kriteria.
- Hasil maksimal: pemilihan alternatif terbaik didasarkan atas hasil ekonomis yang maksimal
Pengambilan keputusan secara
rasional ini berlaku sepenuhnya dalam keadaan yang ideal.
D. Proses Pengambilan Keputusan
Proses pengambilan keputusan
merupakan tahap- tahap yang harus dilalui atau digunakan untuk membuat
keputusan. Tahap- tahap ini merupakan kerangka dasar, sehingga setiap tahap
dapat dikembangkan lagi menjadi beberapa sub tahap (disebut langkah) yang lebih
khusus/ spesifik dan lebih operasional
(Hasan, 2002: 22).
Secara garis besarnya proses
pengambilan keputusan terdiri atas tiga tahap yaitu sebagai berikut.
- Penemuan masalah
Tahap ini merupakan tahap di mana
masalah harus didefinisikan dengan jelas sehingga perbadaan antara masalah satu
dan bukan masalah (misalnya isu) menjadi jelas.
- Pemecahan masalah
Tahap ini merupakan tahap di mana
masalah yang sudah ada atau sudah jelas itu kemudian diselesaikan. Langkah-
langkah yang diambil adalah sebagai berikut.
- Identifikasi alternatif- alternatif keputusan untuk memecahkan masalah.
- Perhitungan mengenai faktor- faktor yang tidak dapat diketahui sebelumnya atau diluar jangkauan manusia, identifikasi peristiwa- peristiwa di masa datang (state of nature).
- Pembuatan alat (sarana) untuk mengevaluasi atau mengukur hasil, biasanya berbentuk tabel hasil (pay of table).
- Pemilihan dan penggunaan model pengambilan keputusan.
- Pengambilan keputusan
Keputusan yang diambil adalah
berdasarkan pada keadaan lingkungan atau kondisi yang ada, seperti kondisi
pasti, kondisi beresiko, kondisi tidak pasti dan kondisi konflik.
Banyak para ahli yang berpendapat
mengenai proses pengambilan suatu keputusan, namun pada intinya proses
pengambilan keputusan dapat disimpulkan sebagai berikut.
- Mengidentifikasi masalah
Suatu organisasi apabila menghadapi
permasalahan lebih dulu harus dibuat jelas apakah itu memang masalah (problem)
atau sekedar isu (issue) belaka. Yang dimaksud dengan masalah disini
adalah persoalan yang harus dipecahkan sedangkan isu adalah persoalan yang
perlu dibicarakan (tidak harus dipecahkan)
- Menganalisis masalah
Untuk mengetahui penyebab timbulnya
masalah, lebih dahulu harus diperoleh data dan informasinya. Dengan kata lain,
lebih dulu harus didapat datanya. Data tersebut kemudian diolah menjadi
informasi tentang penyebab timbulnya masalah. Disini fungsi unit pengolah data
sangat penting sebab kemungkinan juga akan ada informasi yang masuk yang tidak
dapat dipertanggungjawabkan.
- Membuat beberapa alternatif pemecahan masalah
Untuk dapat membuat
alternatif-alternatif pemecahan masalah, maka lebih dahulu harus diketahui
penyebab timbulnya masalah. Selanjutnya dibuatlah beberapa alternative
pemecahannya. Dalam pembuatan beberapa alternative, maka masing-masing
alternatif harus ditunjukkan kekurangan dan kelebihannya.
- Penilaian dan pemilihan alternatif
Setelah berbagai alternatif
diidentifikasi, kemudian dilakukan evaluasi terhadap masing-masing alternatif
yang telah dikembangkan dan dipilih sebuah alternatif yang terbaik. Alternatif-alternatif
tindakan dipertimbangkan berkaitan dengan tujuan yang ditentukan, apakah dapat
memenuhi keharusan atau keinginan. Alternatif yang terbaik adalah dalam
hubungannya dengan sasaran atau tujuan yang hendak dicapai. Bidang ilmu
statistik dan riset operasi merupakan model yang baik untuk menilai berbagai
alternatif yang telah dikembangkan.
- Melaksanakan keputusan
Jika salah satu dari alternatif yang
terbaik telah dipilih, maka keputusan tersebut kemudian harus diterapkan.
Sekalipun langkah ini sudah jelas, akan tetapi sering kali keputusan yang baik
sekalipun mengalami kegagalan karena tidak diterapkan dengan benar.
Keberhasilan penerapan keputusan yang diambil oleh pimpinan bukan semata-mata
tanggung jawab dari pimpinan akan tetapi komitmen dari bawahan untuk
melaksanakannya juga memegang peranan yang penting.
Dalam mengevaluasi dan memilih
alternatif suatu keputusan seharusnya juga mempertimbangkan kemungkinan
penerapan dari keputusan tersebut. Betapapun baiknya suatu keputusan apabila
keputusan tersebut sulit diterapkan maka keputusan itu tidak ada artinya.
Pengambil keputusan membuat keputusan berkaitan dengan tujuan yang ideal dan
hanya sedikit mempertimbangkan penerapan operasionalnya.
- Evaluasi dan Pengendalian
Setelah keputusan diterapkan,
pengambil keputusan tidak dapat begitu saja menganggap bahwa hasil yang
diinginkan akan tercapai. Mekanisme sistem pengendalian dan evaluasi perlu
dilakukan agar apa yang diharapkan dari keputusan tersebut dapat terealisir.
Penilaian didasarkan atas sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan yang
bersifat khusus dan mudah diukur dapat mempercepat pimpinan untuk menilai
keberhasilan keputusan tersebut. Jika keputusan tersebut kurang berhasil, di
mana permasalahan masih ada, maka pengambil keputusan perlu untuk mengambil
keputusan kembali atau melakukan tindakan koreksi. Masing-masing tahap dari
proses pengambilan keputusan perlu dipertimbangkan dengan hati-hati, termasuk
dalam penetapan sasaran tujuan Setiap keputusan yang diambil itu merupakan perwujudan
kebijakan yang telah digariskan. Oleh karena itu analisis proses pengambilan
keputusan pada hakikatnya sama saja dengan proses kebijakan.
E. Permasalahan yang dihadapi dalam
Pengambilan Keputusan
Kegiatan
yang dilakukan oleh setiap organisasi itu diharapkan dapat berjalan dengan
lancar, tanpa mengalami suatu hambatan apapun. Tetapi dalam prakteknya selalu
ada saja masalah atau kendala yang dihadapi sehingga tujuan tidak selalu dapat
dicapai dengan mulus.
Oleh karena itu yang pertama-tama
dilakukan dalam proses pengambilan keputusan adalah mengadakan identifikasi
masalahnya lebih dahulu. Masalah adalah sesuatu yang perlu dipecahkan, yang
kerap kali membutuhkan beberapa alternatif untuk kemudian dipilih satu yang
sekiranya paling tepat untuk masalah tersebut. Apabila dihubungkan dengan
kebijakan dalam pengambilan keputusan dalam suatu organisasi maka masalah yang
dihadapi itu merupakan nilai-nilai, kebutuhan-kebutuhan yang belum sempat
terealisasi namun apabila dapat diidentifikasikan akan dapat dilaksanakan
dengan baik melalui tindakan pengambil keputusan.
Dalam menghadapi masalah, hendaknya
merici terlebih dahulu permasalahannya dengan cermat. Dari masalah yang dirinci
kemudian disusun manalah yang bulat dan menyeluruh. Dunn memberikan memberikan
pendapat bahwa penyusunan masalah secara bulat melalui tiga tahap. Pertama, mengadakan
konseptualisasi permasalahannya. Kedua, mengadakan spesifikasi
permasalahan dan ketiga berusaha memehami permasalahan secara
keseluruhan.
Quade mengemukakan langkah-langkah
apa yang sekiranya perlu dilakukan dalam menangani masalah: (1) mengusahakan
keterangan dan penjelasan yang lebih lanjut tentang masalah itu sendiri; (2)
identifikasi sasaran dan tujuan kegiatan yang akan dilakukan; (3) mengukur
tingkat keberhasilannya; (4) menentukan kriteria keberhasilan pencapaian
tujuan; (5) memperhatikan sektor lingkungan; (6) meneliti satu per satu
alternatif pemecahan masalah sehingga masing-masing dikrtahui kelemahan dan
keunggulannya; (7) merumuskan model mana saja yang dimungkinkan untuk pemecahan
masalah; (8) mengumpulkan data untuk pengukuran dan pemilihan alternatif yang
paling tepat untuk pemecahan masalah; (9) mengadakan perbandingan antara model
yang satu dengan model yang lain; (10) mengetes hasil analisis untuk lebih
meyakinkan; (11) mempertimbangkan juga apakah terdapat juga segi-segi
ketidakefisienan yang terjadi, dan (12) mengadakan ringkasan bilamana perlu
menyertakan juga saran-sarannya.
BAB III
SIMPULAN
Pengambilan
keputusan merupakan suatu proses pemilihan alternatif terbaik dari beberapa
alternatif secara sistematis untuk ditindaklanjuti (digunakan) sebagai suatu
cara pemecahan masalah. Pengambilan keputusan sebagai suatu kelanjutan dari
cara pemecahan masalah memiliki fungsi antara lain sebagai pangkal permulaan
dari semua aktivitas manusia yang sadar dan terarah, baik secara individual
maupun secar kelompok, baik secara institusionalnya maupun secara
organisasional. Dasar pengambilan keputusan itu bermacam- macam tergantung dari
permasalahannya. Secara garis besarnya proses pengambilan keputusan terdiri
atas tiga tahap yaitu penemuan masalah, pemecahan masalah, pengambilan
keputusan. Dalam menghadapi masalah, hendaknya merici terlebih dahulu permasalahannya
dengan cermat. Dari masalah yang dirinci kemudian disusun manalah yang bulat
dan menyeluruh. Dunn memberikan memberikan pendapat bahwa penyusunan masalah
secara bulat melalui tiga tahap. Pertama, mengadakan konseptualisasi
permasalahannya. Kedua, mengadakan spesifikasi permasalahan dan ketiga
berusaha memehami permasalahan secara keseluruhan.
DAFTAR PUSTAKA
Hasan, I. 2002. Teori Pengambilan
Keputusan. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Higin, J. 1979. Organization
Policy and Strategik Management: Text and Cases. Illinois: The Dryden
Press.
Mitchell, T. 1978. People in
Organization: Understanding Their Behavior. New York: McGraw-Hill.
Robbins, S. The Administrative
Process. New Delhi: Hall of India.
Salusu, J. 1966. Pengambilan
Keputusan Stratejik untuk Organisasi Publik dan Organisasi Nonprofit.
Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Siagian, S. 1988. Teori dan
Praktek Pengambilan Keputusan. Jakarta: Haji Masagung.
Syamsi, I. 1989. Pengambilan
Keputusan (Decision Making). Jakarta: Bina Aksara.
Syamsi, I. 2000. Pengambilan
Keputusan dan Sistem Informasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Wahab, Abdul Aziz. 2008. Anatomi
Organisasi dan Kepemimpinan Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar