Jumat, 22 November 2013

MAKALAH FUNGSI PENGORGANISASIAN

MAKALAH
FUNGSI PENGORGANISASIAN


OLEH:
SULFADLI
02120110017

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2013

KATA PENGANTAR

            Puji syukur penulis panjatkan kehadiran Allah SWT yang senantiasa mencurahkan rahmat, taufik, dan hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.

            Shalawat dan salam penulis kirimkan atas junjungan Nabi Muhammad SAW, karena beliaulah yang mengantarkan kita dari alam kegelapan menuju alam yang terang menerang sehingga dapat kami ketahui yang mana yang hak dan yang mana yang bathil.
            Penulis tak lupa ucapkan terimah kasih kepada Dosen dan teman-teman kami yang telah memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada kami mudah-mudahan Allah SWT memberikan pahala di sisinya, Amin.

Makassar, 20 April 2013


Penyusun










BAB I
PENDAHULUAN
Pengorganisasian merupakan proses penempatan orang-orang dan sumber daya lainnya untuk melakukan tugas–tugas dalam pencapaian tujuan dan menyangkut pembagian pekerjaan untuk diselesaikan dan mengkoordinasikan hasil-hasilnya.
Pengorganisasian adalah fungsi kedua dan dilakukan secara langsung dari dasar yang telah dibuat oleh perencanaan yang baik. Pengorganisasian membagi siapa yang harus melakukannya, mengidentifikasikan siapa yang harus memerintah dan mengadakan hubungan–hubungan perkantoran untuk komunikasi.
Struktur organisasi secara formal didefinisikan sebagai suatu sistem atau jaringan kerja dari tugas–tugas, pelaporan relationship, dan komunikasi yang menghubungkan bersama pekerjaan individual dan kelompok, sebuah struktur hendaknya mengalokasikan pekerjaan melalui sebuah divisi pekerjaan dan menyediakan koordinasi dari hasil–hasil kinerja sehingga sasaran organisasi terlaksana dengan baik.











BAB II
FUNGSI PENGORGANISASIAN
2.1.            Pengertian Organisasi
Kata organisasi yang dikenal saat ini diserap dari kata dalam bahasa yunani yaitu ὄργανον, organon artinya alat. Organisasi secara umum didefinisikan suatu kelompok dalam suatu wadah untuk tujuan bersama.
Dalam ilmu-ilmu sosial, organisasi dipelajari oleh periset dari berbagai bidang ilmu, terutama sosiologi, ekonomi, ilmu politik, psikologi, dan manajemen. Kajian mengenai organisasi sering disebut studi organisasi (organizational studies), perilaku organisasi (organizational behaviour), atau analisis organisasi (organization analysis)
Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya (uang, material, mesin, metode, lingkungan), sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi.
Menurut para ahli yang mendifinisikan organisasi, sebagai berikut :
1.      Stoner mengatakan bahwa organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang dibawah pengarahan atasan mengejar tujuan bersama.
2.      James D. Mooney mengemukakan bahwa organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
3.      Chester I. Bernard berpendapat bahwa organisasi adalah merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.
4.      Stephen P. Robbins menyatakan bahwa Organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.
Sebuah organisasi dapat terbentuk karena dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti penyatuan visi dan misi serta tujuan yang sama dengan perwujudan eksistensi sekelompok orang tersebut terhadap masyarakat. Organisasi yang dianggap baik adalah organisasi yang dapat diakui keberadaannya oleh masyarakat disekitarnya, karena memberikan kontribusi seperti; pengambilan sumber daya manusia dalam masyarakat sebagai anggota-anggotanya sehingga menekan angka pengangguran.
2.2.            Struktur Organisasi
A.  Pengertian
Pengertian struktur adalah cara sesuatu disusun atau dibangun. Struktur organisasi adalah suatu susunan dan hubungan antara tiap bagian secara posisi yang ada pada suatu lembaga dalam menjalin kegiatan operasional untuk mencapai tujuan tertentu. Struktur organisasi juga dapat diartikan bagaimana pekerjaan dibagi, dikelompokkan, dan dikoordinasikan secara formal.
B.   Jenis Struktur
Dalam pembagian pekerjaan disusunlah struktur agar terjadi pengelompokan yang terkordinasi efektif. Terdapat beberapa jenis struktur diantara yang beberapa itu saling berhubungan satu sama lain. Pemahaman terhadap jenis-jenis struktur ini membantu para manajer dalam menyusun suatu struktur organisasi yang dapat bekerja efektif.
Beberapa Jenis struktur dan penjelasannya, sebagai berikut :
1.      Struktur Fungsional
Dalam struktur fungsional para pekerja dengan kecakapan kerja yang hampir sama melakukan tugas yang sejenis ditempatkan secara bersama dalam kelompok formal.
Keuntungan-keuntungan yang didapat antara lain :
1.      Skala ekonomis dengan penggunaan sumber daya secara efisien;
2.      Tugas yang konsisten dengan pelatihan teknis;
3.      Pemecahan masalah teknis yang berkualitas tinggi;
4.      Pelatihan yang mendalam dan perkembangan kecakapan kerja dalam fungsinya;
5.      Jenjang karir yang jelas dalam fungsinya.
2.      Struktur divisional
Struktur divisional meliputi struktur produk, struktur geografi, dan struktur pelanggan.
Struktur produk adalah pengelompokan pekerja dan aktivitas pekerjaan pada satu produk atau jasa.
Struktur geografi adalah pengelompokan pekerjadan kegiatan yang dilakukan pada lokasi atau daerah yang sama. Struktur pelanggan adalah pengelompokan pekerjaan dan aktivitas untuk melayani pelanggan yang sama.
Kelebihan struktur divisioanal yaitu :
1.      Fleksibilitas yang tinggi dalam merespon perubahan lingkungan;
2.      Meningkatnya koordinasi antar departemen fungsional;
3.      Menunjukkan dengan jelas pertanggung jawaban untuk produksi dan pelayanan pengiriman;
4.      Keahlian yang difokuskan pada pelanggan, produk–produk dan daearah-daerah khusus;
5.      Perkembangan atau penurunan ukuran  yang mudah dengan menambah atau menghapus divisi-divisi;
Kelemahan struktur divisional yaitu :
1.      Dapat menurunkan skala ekonomi;
2.      Menyebarkan persaingan teknik dan keahlian;
3.      Menciptakan persaingan yang tidak sehat diantara unit operasional.
3.      Sturuktur matriks
Sturuktur matriks adalah pendekatan yang digunakan dengan pertukaran fungsi antar tim yang permanen untuk menggabungkan kekuatan teknik dari struktur fungsional dengan mengintegerasikan dari struktur divisional.
Keuntungan dari struktur matriks adalah :
1.      Kerja sama interfungsional; matriks menyediakan cara mengkoordinasi kontribusi fungsional yang berbeda untuk memenuhi kebutuhan program khusus;
2.      Fleksibilitas; matriks memberi kemudahan untuk menambah, memindah atau mengganti fokus dari tim untuk membuat gambaran program baru atau perubahan dasar seperti ukuran bisnis;
3.      Pelayanan terhadap pelanggan; pelanggan struktur matriks selalu menejer program untuk menjawab pertanyaan, menyediakan laporan, dan masalah alamat pelanggan;
4.      Tanggung jawab yang lebih baik; matriks mengidentifikasi dengan jelas para menejer yang bertanggung jawab untuk hasil kinerja;
5.      Peningkatan pembuatan keputusan; matriks memaksa pembuatan keputusan dan pemecahan masalah pada tingkatan tim, dimana terdapat informasi yang paling baik;
6.      Peningkatan manajemen strategi; matriks membebaskan menejer puncak dari keputusan–keputusan rutin untuk membuat strategi yang lain;
4.      Struktur Jaringan
Struktur ini menggunakan variasi strategi untuk beraliansi dari kontrak-kontrak bisnis untuk beroperasi tanpa harus memiliki semua fungsi pendukungnya. Hal ini didapat seperti yang dipaparkan melalui jaringan elektronik. Pemikiran kreatif ini memperbolehkan organisasi untuk beroperasi sebagai sistem dasar yang lebih kecil dan kompleks, bahkan saat memperbaiki operasi-operasi yang luas.
2.3.            Pembagian Kerja
Perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan dalam organisasi bisnis misalnya, melahirkan konsistensi pada tujuan yang hendak dicapai. Pembagian kerja mutlak dilakukan dalam organisasi bisnis agar struktur organisasi yang telah disusun dapat berjalan sesuia dengan kaidah-kaidah yang telah dibangun.
Penyusunan kaidah-kaidah tersebut , antara lain :
1.      Pembagian kerja atas dasar wilayah atau teritorial, misalnya wilayah timur, barat atau wilayah kecamatan, kabupaten dan lain sebagainya.
2.      Pembagian kerja atas dasar jenis benda yang diproduksi, misalnya pada komponen suatu kendaraan, bagian pemasangan jok mobil, pemasangan rem mobil dan lainnya.
3.      Pembagian kerja atas dasar langganan yang dilayani, misalnya adalah langganan secara individual atau kelompok, pemerintahan atau non pemerintahan dan sebagainya.
4.      Pembagian kerja atas dasar fungsi (rangkaian) kerja, misalnya bagian produksi, bagian gudang, bagian pengiriman dan lainnya.
5.      Pembagian kerja atas dasar waktu, misalnya shift kerja pagi, siang dan malam.
Dari pedoman-pedoman di atas maka akan tergambar atau terlihat pembagian kerja di dalam suatu organisasi, yakni :
1.      Jumlah unit organisasi yang ada akan disesuaikan dengan kebutuhan dari organisasi tersebut;
2.      Suatu unit organisasi ini harus mempunyai fungsi bulat dan berkaitan dengan yang lainnya;
3.      Pembentukan unit baru hanya dilaksanakan bilamana unit yang ada sudah tidak tepat lagi untuk menampung kegiatan yang baru baik dari beban kerja maupun hubungan kerja;
4.      Secara garis besar akan berpengaruh pada aktifitas dan sifat dari organisasi tersebut.
Pembagian kerja harus disesuaikan dengan kemampuan dan keahlian sehingga pelaksanaan kerja berjalan efektif. Oleh karena itu, dalam penempatan karyawan harus menggunakan prinsip the right man in the right place. Pembagian kerja harus rasional/objektif, bukan emosional subyektif yang didasarkan atas dasar like and dislike.
Dengan adanya prinsip orang yang tepat ditempat yang tepat (the right man in the right place) akan memberikan jaminan terhadap kestabilan, kelancaran dan efesiensi kerja. Pembagian kerja yang baik merupakan kunci bagi penyelengaraan kerja. kecerobohan dalam pembagian kerja akan berpengaruh kurang baik dan mungkin menimbulkan kegagalan dalam penyelenggaraan pekerjaan, oleh karena itu, seorang manajer yang berpengalaman akan menempatkan pembagian kerja sebagai prinsip utama yang akan menjadi titik tolak bagi prinsip-prinsip lainnya.

2.4.            Bagan Organisasi
Bagan organisasi memperlihatkan fungsi-fungsi, departemen-departemen, atau posisi-posisi organisasi dan menunjukkan hubungan di antaranya. Bagan organisasi memperlihatkan lima aspek utama suatu struktur organisasi :
1.         Pembagian kerja
2.         Manajer dan bawahan atau rantai perintah
3.         Tipe pekerjaan yang dilaksanakan
4.         Pengelompokkan segmen-segmen pekerjaan
5.         Tingkatan manajemen
Bentuk-bentuk bagan terdiri dari :
1.         Bentuk piramid
 Bentuk yang paling banyak digunakan karena sedehana, jelas dan mudah dimengerti.
2.         Bentuk vertikal
Bentuk yang aka menyerupai bentuk piramid dalam hal pelimpahan kekuasaan dari atas ke bawah, hanya bagan vertikal berwujud tegak sepenuhnya.
3.         Bentuk horizontal
Bagan ini digambarkan secara mendatar, aliran wewenang dan tanggung jawab digambarkan dari kiri ke kanan.
4.         Bentuk lingkaran
Bagan ini menekankan pada hubungan antara satu jabatan dengan jabatan lain.


Gambar 2.1. Bentuk-bentuk bagan organisasi
 













2.5.            Departementalisasi
Ketika mengembangkan atau suatu struktur organisasi, manajemen tingkat atas pertama kali harus mengidentifikasi seluruh penugasan jabatan, pekerjaan dan tanggung jawab yang berbeda-beda. Lalu, langkah selanjutnya adalah mendepartementalisasikan (departementalize) pekerjaan dan tanggung jawab tersebut, yang artinya memberikan pekerjaan dan tanggung jawab tadi ke berbagai departemen yang berbeda. Dengan menggunakan metode departementalisasi pekerjaan dan tanggung jawab yang efisien, perusahan dapat meminimalisasi pengeluaran dan memaksimalkan nilainya. Berikut adalah empat metode departementalisasi yang cukup populer :
1.         Menurut fungsi
2.         Menurut produk
3.         Menurut lokasi
4.         Menurut pelanggan
1.      Departementalisasi menurut fungsi
Ketika perusahan melakukan departementalisasi menurut fungsi, perusahaan akan mengalokasikan pekerjaan dan tanggung jawab menurut fungsi-fungsi karyawan. Sistem ini dapat bekerja dengan baik bagi perusahaan yang hanya memproduksi satu atau sedikit produk saja, terutama jika para manajernya melakukan komunikasi lintas fungsi.
2.      Departementalisasi menurut Produk
Pada perusahaan-perusahaan yang lebih besar dengan banyak produk, departemen talisasi menurut produk adalah suatu hal yang biasa dilakukan. Pekerjaan dan tanggung jawab dipisah menurut jenis produk yang dihasilkan.
Departementalisasi menurut produk memungkinkan sebuah perusahaan lebih mudah melakukan estimasi pengeluaran-pengeluaran yang terkait dalam produksi masing-masing produk. Perusahan dapat dilihat sebagai suatu kumpulan divisi-divisi bisnis yang terpisah (dipisahkan menurut produk), dan laba setiap divisi lama-kelamaan dapat diketahui. Hal ini memungkinka perusahaan mengetahui kontribusi masing-masing divisi bisnis terhadap total labanya, yang akan bermanfaat ketika perusahaan ingin memutuskan divisi mana yang sebaiknya diperluas.
Bagi perusahaan berukuran kecil atau sedang yang hanya memilki beberapa produk, departementalisasi menurut produk menyebabkan penggunaan karyawan yang tidak efisien sehingga menimbulkan pengeluaran yang berlebihan. Misalnya, seorang manajer keuangan seharusnya mampu menanggulangi seluruh tanggung jawab keuangan, dan seorang manajer pemasaran seharusnya mampu menangani seluruh tanggung jawab pemasaran. Jadi, tidak ada alasan untuk melakukan departementalisasi menurut produk.
3.      Departementalisasi menurut Lokasi
Pekerjaan dan tanggung jawab juga dapat didepartemtalisasi menurut lokasi melalui pendirian kantor-kantor daerah yang meliputi wilayah-wilayah geografis tertentu. Sistem ini manarik jika pelanggan perusahaan di lokasi-lokasi tertentu sering membeli berbagai jenis produk. Pelanggan tersebut dapat menghubungi  kantor daerah di wilayah yang sama dengannya untuk memenuhi pesanan. Misalnya, kantor-kantor akuntan publik besar melakukan departementalisasi menurut lokasi agar dapat mendekati klien-kliennya.
Ketika sebuah perusahaan melakukan departementalisasi menurut lokasi, perusahaan tersebut akan dapat lebih mudah memperkirakan pengeluaran yang terjadi di masing-masing lokasi. Perusahaan dapat dilihat sebagai kumpulan divisi yang terpisah menurut lokasi, dimana setiap lokasi menghasilkan labanya sendiri. Bagan organisasi seperti yang ditunjukkan dalam gambar.
4.      Departementalisasi menurut Pelanggan
Beberapa perusahaan membuat divisi-divisi yang terpisah berdasarkan jenis pelanggannya. Sebagai contoh, beberapa maskapai penerbangan memiliki divisi-divisi reservasi terpisah yang sepenuhnya memusatkan diri pada perjalanan-perjalanan kelompok. Perusahaan-perusahaan komputer seperi misalnya Dell telah menunjuk beberapa orang tenaga penjualan untuk sepenuhnya memusatkan diri pada penjualan komputer ke lembaga-lembaga pendidikan. Mereka juga memiliki beberapa devisi yang memusatkan diri pada penjualan pribadi secara online, sedangkan yang lainnya memusatkan diri pada pelanggan perusahaan besar.
2.6.            Koordinasi dan Rentang Manajemen
A.     Koordinasi
Koordinasi (coordination) adalah proses pengintegrasian tujuan-tujuan dan kegiatan-kegiatan pada satuan-satuan yang terpisah (departemen atau bidang-bidang fungsional) suatu organisasi untuk mencapai tujuan organisasi secara efisien.
Tanpa koordinasi, individu-individu dan departemen-departemen akan kehilangan pegangan atas peranan mereka dalam organisasi. Pencapaian tujuan organisasi secara keseluruhan.
B.     Kebutuhan akan Koordinasi
Menurut James D. Thompson, ada tiga macam saling ketergantungan di antara satuan-satuan organisasi, yaitu:
1.      Saling ketergantungan yang menyatu (pooled interdependence) bila satuan-satuan organisasi tidak saling tergantung satu dengan yang lain dalam melaksanakan kegiatan harian tetapi tergantung pada pelaksanaan kerja setiap satuan yang memuaskan untuk suatu hasil akhir;
2.       Saling ketergantungan yang berurutan (sequential interdependence), dimana suatu satuan organisasi harus melakukan pekerjaannya terlebih dahulu sebelum satuan yang lain dapat bekerja;
3.      Saling ketergantungan timbal balik (reciprocal interpendence), merupakan hubungan memberi dan menerima antar satuan organisasi.
C.     Kendala Pencapaian Koordinasi Efektif
Empat perbedaan dalam sikap dan cara kerja diantara bermacam-macam individu dan departemen-departemen dalam organisasi yang mempersulit tugas pengkoordinasian bagian-bagian organisasi secara efektif, yaitu :
1.         Perbedaan dalam orientasi terhadap tujuan tertentu. Para anggota dari departemen yang berbeda mengembangkan pandangan mereka sendiri tentang bagaimana cara mencapai kepentingan organisasi yang baik;
2.         Perbedaan dalam orientasi waktu. Manajer produksi akan lebih memperhatikan masalah-masalah yang harus dipecahkan segera atau dalam periode waktu pendek. Bagian penelitian dan pengembangan lebih terlibat dengan masalah-masalah jangka panjang;
3.         Perbedaan dalam orientasi antar pribadi;
4.         Perbedaan dalam formalitas struktur. Setiap tipe satuan dalam organisasi mungkin mempunyai metoda-metoda dan standart yang berbeda untuk mengevaluasi program terhadap tujuan dan untuk balas jasa bagi karyawan;
Mekanisme-mekanisme pengkoordinasian dasar, yaitu :
1.      Hirarki manajerial
Rantai perintah, aliran informasi dan kerja, wewenang formal, hubungan tanggung jawab dan akuntabilitas yang jelas dapat menumbuhkan integrasi bila dirumuskan secara jelas serta dilaksanakan dengan pengarahan yang tepat.
2.      Aturan dan prosedur
 Aturan-aturan dan prosedur-prosedur adalah keputusan-keputusan manajerial yang dibuat untuk manangani kejadian-kejadian rutin, sehingga dapat juga menjadi peralatan yang efisien untuk koordinasi dan pengawasan rutin.
3.      Rencana dan penetapan tujuan
Pengembangan rencana dan tujuan dapat digunakan untuk pengkoordinasian melalui pengarahan seluruh satuan organisasi terhadap sasaran-sasaran yang sama. Ini diperlukan untuk mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan satuan-satuan organisasi.
D.     Rentang Manajemen
Prinsip rentang manajemen berkaitan dengan jumlah bawahan yang dapat dikendalikan secara efektif oleh seorang manajer atau atasan. Rentang manajemen juga dapat berarti jumlah bawahan yang secara langsung memberikan laporan kepada seorang manajer tertentu.
Rentang manajemen sering disebut dengan istilah span of control, span of authority, span of attention, atau span of supervision.
Rentang manajemen dan koordinasi adalah saling berhubungan erat; ada anggapan semakin besar jumlah rentangan semakin sulit untuk mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan bawahan secara efektif.
Jumlah rentang ideal
Ada dua alasan utama penentuan rentangan yang tepat:
1.    Rentang manajemen mempengaruhi penggunaan efisien dari manajer dan pelaksanaan kerja efektif dari bawahan mereka. Terlalu lebarnya rentangan dapat berarti bahwa manajer harus mengendalikan jumlah bawahan yang besar sehingga menyebabkan tidak efisien;
2.    Ada hubungan antara rentang manajemen di seluruh organisasi dan struktur organisasi. Semakin sempit rentang manajemen, struktur organisasi akan berbentuk “tall” dengan banyak tingkat pengawasan dengan manajemen puncak dan tingkat paling rendah;
3.    Rentang manajemen yang melebar akan menghasilkan struktur yang berbentuk “flat” yang berarti tingkatan manajemen semakin sedikit.
Meskipun para pakar manajemen bermaksud menemukan jumlah yang pasti tentang rentangan manajemen ideal, tetapi tidak ada jumlah yang mutlak dapat ditentukan, karena hal ini tergantung pada banyaknya variabel, seperti besarnya organisasi, teknologi, spesialisasi, kegiatan-kegiatan rutin, tingkatan manajemen dan sifat-sifat pekerjaan lainnya.
Sebagian besar penulis manajemen baru menghasilkan pedoman umum melalui penentuan batasan dan menemukan rentangan yang optimal untuk situasi khusus.
Henry Fayol mengemukakan bahwa jumlah maksimum bawahan yang dapat dikendalikan oleh setiap pengawas produksi dalam organisasi adalah 20 sampai 30 karyawan, sedang setiap kepala pengwas (superintendent) dapat mengawasi hanya 3 atau 4 pengawas produksi. Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa jumlah rentangan adalah antara 3 sampai 8 bawahan dan sebagainya.
V.A graicunas, seorang konsultan dan ahli matematika perancis, menyatakan bahwa dalam memilih suatu rentangan, manajer harus mempertimbangkan tidak hanya hubungan satu dengan satu secara langsung dengan bawahan yang diawasi tetapi juga hubungan mereka dengan bawahan dalam kelompok dua atau lebih. Jaid, dengan tiga individu, dan dengan tiga kelompok yang berbeda, yaitu kombinasi dari setiap dua karyawan, dan dengan kelompok yang terdiri dari ketiganya. V.A graicunas, seorang konsultan dan ahli matematika perancis, menyatakan bahwa dalam memilih suatu rentangan, manajer harus mempertimbangkan tidak hanya hubungan satu dengan satu secara langsung dengan bawahan yang diawasi tetapi juga hubungan mereka dengan bawahan dalam kelompok dua atau lebih. Jadi, dengan tiga individu, dan dengan tiga kelompok yang berbeda, yaitu kombinasi dari setiap dua karyawan, dan dengan kelompok yang terdiri dari ketiganya.

2.7.            Wewenang dan Jenis Wewenang
A.     Pengertian
Wewenang secara bahasa diartikan hak dan kekuasaan untuk bertindak; kewenangan; kekuasaan membuat keputusan, memerintah, dan melimpahkan tanggung jawab kepada orang lain.
Pengertian wewenang adalah kekuasaan atau hak memerintah atau meminta orang lain berbuat sesuatu dan dibatasi melalui uraian tugasnya sesuai dengan fungsi dan kedudukan staf dalam sebuah organisasi.
Definisi wewenang yang dikemukakan para ahli manajemen ialah sebagai berikut:
1.         Menurut Louis A. Allen dalam bukunya, Management and Organization. Wewenang adalah jumlah kekuasaan (powers) dan hak (rights) yang didelegasikan pada suatu jabatan.
2.         Menurut Harold Koontz dan Cyril O’Donnel dalam bukunya, The Principles of Management Authority adalah suatu hak untuk memerintah / bertindak.
3.         Menurut G. R. Terry, wewenang adalah kekuasaan resmi dan kekuasaan pejabat untuk menyuruh pihak lain supaya bertindak dan taat kepada pihak yang memiliki wewenang itu.
4.         Menurut R. C. Davis dalam bukunya, Fundamentals of Management, wewenang adalah hak yang cukup, yang memungkinkan seseorang dapat menyelesaikan suatu tugas/kewajiban tertentu.
Jadi, wewenang adalah dasar untuk bertindak, berbuat dan melakukan kegiatan/aktivitas perusahaan. Tanpa wewenang orang-orang dalam perusahaan tidak dapat berbuat apa-apa.

B.     Jenis Wewenang
Wewenang terbagi atas tiga jenis :
1.      Line Authority (wewenang lini), wewenang manajer yang bertanggung jawab langsung, diseluruh rantai komando organisasi, untuk mencapai sasaran organisasi;
2.      Staff Authority (wewenang staf), wewenang kelompok, individu yang menyediakan saran dan jasa kepada manajer lini;
3.      Functional Authority (wewenang fungsional), wewenang anggota staf departemen untuk mengendalikan aktivitas departemen lain karena berkaitan dengan tanggung jawab staf spesifik.
2.8.            Delegasi
Delegasi secara umum didefinisikan tindakan memberikan wewenang dan tanggung jawab formal untuk menyelesaikan aktivitas spesifik kepada bawahan.
Definisi delegasi menurut para ahli :
1.         Menurut Ralph C. Davis Pendelegasian wewenang hanyalah tahapah dari suatu proses ketika penyerahan wewenang berfungsi melepaskan kedudukan dengan melaksanakan pertanggung jawaban.
2.      Menurut Louis A. Allen, Pendelegasian adalah proses yang diikuti oleh seorang manajer dalam pembagian kerja yang ditimpakan padanya, sehingga ia dapat memperoleh orang-orang lain untuk membantu pekerjaan yang tidak dapat ia kerjakan.




2.9.            Sentralisasi dan Desentralisasi
Sebuah perusahaan harus memutuskan bagaimana mendistribusikan wewenang untuk melakukan pengambilan keputusan di antara posisi-posisi jabatan. Pendistribusian wewenang sering kali dinyatakan dengan apakah perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang tersentralisasi atau terdesentralisasi.
A.    Sentralisasi
Sentralisasi maksudnya adalah sebagian besar wewenang/kekuasaan masih tetap dipegang oleh manajer puncak. Dalam perusahaan yang tersentralisasi, manajer tingkat menengah dan supervisior bertanggung jawab atas tugas sehari-hari dan memberikan laporannya kepada manajer puncak, tetapi mereka tidak diperkenankan untuk banyak mengambil keputusan.
B.     Desentralisasi
Desentralisasi yaitu wewenang disebar di antara beberapa divisi atau manajer. Salah satu bentuk yang paling ekstrem adalah otonomi, dimana divisi-divisi diizinkan untuk melakukan pengambilan keputusannya sendiri dan bertindak secara independen.










BAB III
KESIMPULAN
Fungsi pengorganisasian meliputi organisasi karyawan dan sumberdaya-sumberdaya lainnya melalui cara yang konsisten dengan tujuan perusahaan. Setelah tujuan perusahaan dibuat (dari fungsi perencanaan), sumber daya akan diperoleh dan dikelola untuk mencapai tujuan tersebut.
Fungsi pengorganisasian terjadi secara kontinu pada sepanjang hidup perusahaan. Fungsi ini khususnya memiliki arti penting bagi perusahaan yang sering melakukan restrukturisasi atas operasinya. Perubahan-perubahan operasional seperti misalnya penciptaan jabatan baru ataupromosi seorang karyawan dapat sering dilakukan. Perubahan-perubahan seperti ini bahkan dapat menyebabkan perlunya dilakukan revisi pada alokasi pekerjaan karyawan yang jabatannya tidak berubah
Untuk menggambarkan betapa pentingnya arti fungsi pengorganisasian, kita lihat sebuah perusahaan konstruksi yang membangun sebuah perumahan. Kontraktor umum ini memberikan tugas kepada para karyawannya. Dari pekerjaan pembuatan fondasi hingga pengecatan, sebagian besar tugas harus diselesaikan dalam urutan tertentu. Karena keseluruhan tugas tidak dapat diselesaikan secara bersamaan, para pekerja kontraktor akan bekerja pada beberapa rumah yang berbeda. Dengan cara ini karyawan dapat menerapkan keahlian khusus mereka (seperti misalnya pengecatan, listrik, dan seterusnya) pada rumah-rumah yang berada pada tahapan kostruksi yang tepat.




                             

DAFTAR PUSTAKA

Madura, Jeff. Pengantar Bisnis edisi 4 (Penyadur, Ali Akbar Yulianto dan Krista). Jakarta: Salemba Empat, 2009.
Bowo PK, Arif. “Pengorganisasian,” dalam Modul Pengantar Manajemen, 2008.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar