MAKALAH
FUNGSI PENGORGANISASIAN
OLEH:
SULFADLI
02120110017
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadiran
Allah SWT yang senantiasa mencurahkan rahmat, taufik, dan hidayahnya, sehingga penulis
dapat menyelesaikan makalah ini.
Shalawat dan salam penulis kirimkan atas
junjungan Nabi Muhammad SAW, karena beliaulah yang mengantarkan kita dari alam kegelapan
menuju alam yang terang menerang sehingga dapat kami ketahui yang mana yang hak
dan yang mana yang bathil.
Penulis tak lupa ucapkan terimah kasih
kepada Dosen dan teman-teman kami yang telah memberikan pelajaran yang sangat berharga
kepada kami mudah-mudahan Allah SWT memberikan pahala di sisinya, Amin.
Makassar, 20 April 2013
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
Pengorganisasian merupakan proses penempatan orang-orang dan sumber daya lainnya
untuk melakukan tugas–tugas dalam pencapaian tujuan dan menyangkut pembagian
pekerjaan untuk diselesaikan dan mengkoordinasikan hasil-hasilnya.
Pengorganisasian adalah fungsi kedua dan dilakukan secara langsung dari
dasar yang telah dibuat oleh perencanaan yang baik. Pengorganisasian membagi
siapa yang harus melakukannya, mengidentifikasikan siapa yang harus memerintah
dan mengadakan hubungan–hubungan perkantoran untuk komunikasi.
Struktur organisasi secara formal didefinisikan sebagai suatu sistem atau
jaringan kerja dari tugas–tugas, pelaporan relationship,
dan komunikasi yang menghubungkan bersama pekerjaan individual dan kelompok,
sebuah struktur hendaknya mengalokasikan pekerjaan melalui sebuah divisi
pekerjaan dan menyediakan koordinasi dari hasil–hasil kinerja sehingga sasaran
organisasi terlaksana dengan baik.
BAB II
FUNGSI
PENGORGANISASIAN
2.1.
Pengertian
Organisasi
Kata organisasi yang dikenal saat ini diserap dari kata dalam bahasa yunani
yaitu ὄργανον,
organon artinya alat. Organisasi secara umum didefinisikan suatu
kelompok dalam suatu wadah untuk tujuan bersama.
Dalam
ilmu-ilmu sosial, organisasi dipelajari oleh periset dari berbagai bidang ilmu,
terutama sosiologi, ekonomi, ilmu politik, psikologi, dan manajemen. Kajian
mengenai organisasi sering disebut studi organisasi (organizational studies),
perilaku organisasi
(organizational behaviour), atau analisis organisasi (organization
analysis)
Organisasi
pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul,
bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin
dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya (uang, material, mesin, metode,
lingkungan), sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara
efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi.
Menurut
para ahli yang mendifinisikan organisasi, sebagai berikut :
1.
Stoner mengatakan bahwa organisasi
adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang dibawah
pengarahan atasan mengejar tujuan bersama.
2.
James D. Mooney mengemukakan bahwa
organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan
bersama.
3.
Chester I. Bernard berpendapat bahwa
organisasi adalah merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan
oleh dua orang atau lebih.
4.
Stephen P. Robbins menyatakan bahwa
Organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar,
dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas
dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau
sekelompok tujuan.
Sebuah
organisasi dapat terbentuk karena dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti
penyatuan visi dan misi serta tujuan yang sama dengan perwujudan eksistensi
sekelompok orang tersebut terhadap masyarakat. Organisasi yang dianggap baik
adalah organisasi yang dapat diakui keberadaannya oleh masyarakat disekitarnya,
karena memberikan kontribusi seperti; pengambilan sumber daya manusia dalam
masyarakat sebagai anggota-anggotanya sehingga menekan angka pengangguran.
2.2.
Struktur Organisasi
A. Pengertian
Pengertian struktur adalah cara sesuatu disusun atau
dibangun. Struktur organisasi adalah suatu susunan dan hubungan antara tiap
bagian secara posisi yang ada pada suatu lembaga dalam menjalin kegiatan
operasional untuk mencapai tujuan tertentu. Struktur organisasi juga dapat
diartikan bagaimana pekerjaan dibagi, dikelompokkan, dan dikoordinasikan secara
formal.
B. Jenis Struktur
Dalam pembagian pekerjaan disusunlah struktur agar terjadi
pengelompokan yang terkordinasi efektif. Terdapat beberapa jenis struktur
diantara yang beberapa itu saling berhubungan satu sama lain. Pemahaman
terhadap jenis-jenis struktur ini membantu para manajer dalam menyusun suatu
struktur organisasi yang dapat bekerja efektif.
Beberapa
Jenis struktur dan penjelasannya, sebagai berikut :
1.
Struktur Fungsional
Dalam
struktur fungsional para pekerja dengan kecakapan kerja yang hampir sama
melakukan tugas yang sejenis ditempatkan secara bersama dalam kelompok formal.
Keuntungan-keuntungan yang didapat
antara lain :
1.
Skala ekonomis dengan penggunaan
sumber daya secara efisien;
2.
Tugas yang konsisten dengan
pelatihan teknis;
3.
Pemecahan masalah teknis yang
berkualitas tinggi;
4.
Pelatihan yang mendalam dan
perkembangan kecakapan kerja dalam fungsinya;
5.
Jenjang karir yang jelas dalam
fungsinya.
2.
Struktur divisional
Struktur
divisional meliputi struktur produk, struktur geografi, dan struktur pelanggan.
Struktur
produk adalah pengelompokan pekerja dan aktivitas pekerjaan pada satu produk
atau jasa.
Struktur
geografi adalah pengelompokan pekerjadan kegiatan yang dilakukan pada lokasi atau
daerah yang sama. Struktur pelanggan adalah pengelompokan pekerjaan dan
aktivitas untuk melayani pelanggan yang sama.
Kelebihan
struktur divisioanal yaitu :
1.
Fleksibilitas yang tinggi dalam
merespon perubahan lingkungan;
2.
Meningkatnya koordinasi antar departemen
fungsional;
3.
Menunjukkan dengan jelas pertanggung
jawaban untuk produksi dan pelayanan pengiriman;
4.
Keahlian yang difokuskan pada
pelanggan, produk–produk dan daearah-daerah khusus;
5.
Perkembangan atau penurunan
ukuran yang mudah dengan menambah atau
menghapus divisi-divisi;
Kelemahan
struktur divisional yaitu :
1.
Dapat menurunkan skala ekonomi;
2.
Menyebarkan persaingan teknik dan
keahlian;
3.
Menciptakan persaingan yang tidak
sehat diantara unit operasional.
3.
Sturuktur matriks
Sturuktur matriks adalah pendekatan
yang digunakan dengan pertukaran fungsi antar tim yang permanen untuk
menggabungkan kekuatan teknik dari struktur fungsional dengan mengintegerasikan
dari struktur divisional.
Keuntungan dari struktur matriks adalah :
1.
Kerja sama interfungsional; matriks
menyediakan cara mengkoordinasi kontribusi fungsional yang berbeda untuk
memenuhi kebutuhan program khusus;
2.
Fleksibilitas; matriks memberi
kemudahan untuk menambah, memindah atau mengganti fokus dari tim untuk membuat
gambaran program baru atau perubahan dasar seperti ukuran bisnis;
3.
Pelayanan terhadap pelanggan;
pelanggan struktur matriks selalu menejer program untuk menjawab pertanyaan,
menyediakan laporan, dan masalah alamat pelanggan;
4.
Tanggung jawab yang lebih baik;
matriks mengidentifikasi dengan jelas para menejer yang bertanggung jawab untuk
hasil kinerja;
5.
Peningkatan pembuatan keputusan;
matriks memaksa pembuatan keputusan dan pemecahan masalah pada tingkatan tim,
dimana terdapat informasi yang paling baik;
6.
Peningkatan manajemen strategi; matriks
membebaskan menejer puncak dari keputusan–keputusan rutin untuk membuat
strategi yang lain;
4.
Struktur Jaringan
Struktur
ini menggunakan variasi strategi untuk beraliansi dari kontrak-kontrak bisnis
untuk beroperasi tanpa harus memiliki semua fungsi pendukungnya. Hal ini
didapat seperti yang dipaparkan melalui jaringan elektronik. Pemikiran kreatif
ini memperbolehkan organisasi untuk beroperasi sebagai sistem dasar yang lebih
kecil dan kompleks, bahkan saat memperbaiki operasi-operasi yang luas.
2.3.
Pembagian
Kerja
Perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan dalam organisasi
bisnis misalnya, melahirkan konsistensi pada tujuan yang hendak dicapai.
Pembagian kerja mutlak dilakukan dalam organisasi bisnis agar struktur
organisasi yang telah disusun dapat berjalan sesuia dengan kaidah-kaidah yang
telah dibangun.
Penyusunan kaidah-kaidah tersebut , antara lain :
1.
Pembagian kerja atas dasar wilayah
atau teritorial, misalnya wilayah timur, barat atau wilayah kecamatan,
kabupaten dan lain sebagainya.
2.
Pembagian kerja atas dasar jenis
benda yang diproduksi, misalnya pada komponen suatu kendaraan, bagian
pemasangan jok mobil, pemasangan rem mobil dan lainnya.
3.
Pembagian kerja atas dasar langganan
yang dilayani, misalnya adalah langganan secara individual atau kelompok, pemerintahan
atau non pemerintahan dan sebagainya.
4.
Pembagian kerja atas dasar fungsi
(rangkaian) kerja, misalnya bagian produksi, bagian gudang, bagian pengiriman
dan lainnya.
5.
Pembagian kerja atas dasar waktu,
misalnya shift kerja pagi, siang dan
malam.
Dari pedoman-pedoman di atas maka akan tergambar atau
terlihat pembagian kerja di dalam suatu organisasi, yakni :
1.
Jumlah unit organisasi yang ada akan
disesuaikan dengan kebutuhan dari organisasi tersebut;
2.
Suatu unit organisasi ini harus
mempunyai fungsi bulat dan berkaitan dengan yang lainnya;
3.
Pembentukan unit baru hanya
dilaksanakan bilamana unit yang ada sudah tidak tepat lagi untuk menampung
kegiatan yang baru baik dari beban kerja maupun hubungan kerja;
4.
Secara garis besar akan berpengaruh
pada aktifitas dan sifat dari organisasi tersebut.
Pembagian
kerja harus disesuaikan dengan kemampuan dan keahlian sehingga pelaksanaan
kerja berjalan efektif. Oleh karena itu, dalam penempatan karyawan harus
menggunakan prinsip the right man in the right place. Pembagian kerja
harus rasional/objektif, bukan emosional subyektif yang didasarkan atas dasar like
and dislike.
Dengan adanya prinsip orang yang
tepat ditempat yang tepat (the right man in the right place) akan
memberikan jaminan terhadap kestabilan, kelancaran dan efesiensi kerja.
Pembagian kerja yang baik merupakan kunci bagi penyelengaraan kerja.
kecerobohan dalam pembagian kerja akan berpengaruh kurang baik dan mungkin
menimbulkan kegagalan dalam penyelenggaraan pekerjaan, oleh karena itu, seorang
manajer yang berpengalaman akan menempatkan pembagian kerja sebagai prinsip
utama yang akan menjadi titik tolak bagi prinsip-prinsip lainnya.
2.4.
Bagan
Organisasi
Bagan
organisasi memperlihatkan fungsi-fungsi, departemen-departemen, atau
posisi-posisi organisasi dan menunjukkan hubungan di antaranya. Bagan
organisasi memperlihatkan lima aspek utama suatu struktur organisasi :
1.
Pembagian kerja
2.
Manajer dan bawahan atau rantai perintah
3.
Tipe pekerjaan yang dilaksanakan
4.
Pengelompokkan segmen-segmen pekerjaan
5.
Tingkatan manajemen
Bentuk-bentuk bagan terdiri dari :
1.
Bentuk piramid
Bentuk yang paling banyak digunakan karena
sedehana, jelas dan mudah dimengerti.
2.
Bentuk vertikal
Bentuk yang aka menyerupai
bentuk piramid dalam hal pelimpahan kekuasaan dari atas ke bawah, hanya bagan
vertikal berwujud tegak sepenuhnya.
3.
Bentuk horizontal
Bagan ini digambarkan secara
mendatar, aliran wewenang dan tanggung jawab digambarkan dari kiri ke kanan.
4.
Bentuk lingkaran
Bagan ini menekankan pada
hubungan antara satu jabatan dengan jabatan lain.
Gambar 2.1. Bentuk-bentuk bagan organisasi
2.5.
Departementalisasi
Ketika mengembangkan atau suatu struktur organisasi,
manajemen tingkat atas pertama kali harus mengidentifikasi seluruh penugasan
jabatan, pekerjaan dan tanggung jawab yang berbeda-beda. Lalu, langkah
selanjutnya adalah mendepartementalisasikan (departementalize) pekerjaan dan tanggung jawab tersebut, yang
artinya memberikan pekerjaan dan tanggung jawab tadi ke berbagai departemen
yang berbeda. Dengan menggunakan metode departementalisasi pekerjaan dan
tanggung jawab yang efisien, perusahan dapat meminimalisasi pengeluaran dan
memaksimalkan nilainya. Berikut adalah empat metode departementalisasi yang
cukup populer :
1.
Menurut fungsi
2.
Menurut produk
3.
Menurut lokasi
4.
Menurut pelanggan
1.
Departementalisasi menurut fungsi
Ketika perusahan melakukan departementalisasi menurut
fungsi, perusahaan akan mengalokasikan pekerjaan dan tanggung jawab menurut
fungsi-fungsi karyawan. Sistem ini dapat bekerja dengan baik bagi perusahaan
yang hanya memproduksi satu atau sedikit produk saja, terutama jika para
manajernya melakukan komunikasi lintas fungsi.
2.
Departementalisasi menurut Produk
Pada perusahaan-perusahaan yang lebih besar dengan banyak
produk, departemen talisasi menurut produk adalah suatu hal yang biasa
dilakukan. Pekerjaan dan tanggung jawab dipisah menurut jenis produk yang
dihasilkan.
Departementalisasi menurut produk memungkinkan sebuah
perusahaan lebih mudah melakukan estimasi pengeluaran-pengeluaran yang terkait
dalam produksi masing-masing produk. Perusahan dapat dilihat sebagai suatu
kumpulan divisi-divisi bisnis yang terpisah (dipisahkan menurut produk), dan
laba setiap divisi lama-kelamaan dapat diketahui. Hal ini memungkinka
perusahaan mengetahui kontribusi masing-masing divisi bisnis terhadap total
labanya, yang akan bermanfaat ketika perusahaan ingin memutuskan divisi mana
yang sebaiknya diperluas.
Bagi perusahaan berukuran kecil atau sedang yang hanya
memilki beberapa produk, departementalisasi menurut produk menyebabkan
penggunaan karyawan yang tidak efisien sehingga menimbulkan pengeluaran yang
berlebihan. Misalnya, seorang manajer keuangan seharusnya mampu menanggulangi
seluruh tanggung jawab keuangan, dan seorang manajer pemasaran seharusnya mampu
menangani seluruh tanggung jawab pemasaran. Jadi, tidak ada alasan untuk
melakukan departementalisasi menurut produk.
3.
Departementalisasi menurut Lokasi
Pekerjaan dan tanggung jawab juga dapat didepartemtalisasi
menurut lokasi melalui pendirian kantor-kantor daerah yang meliputi
wilayah-wilayah geografis tertentu. Sistem ini manarik jika pelanggan
perusahaan di lokasi-lokasi tertentu sering membeli berbagai jenis produk.
Pelanggan tersebut dapat menghubungi
kantor daerah di wilayah yang sama dengannya untuk memenuhi pesanan.
Misalnya, kantor-kantor akuntan publik besar melakukan departementalisasi
menurut lokasi agar dapat mendekati klien-kliennya.
Ketika sebuah perusahaan melakukan departementalisasi
menurut lokasi, perusahaan tersebut akan dapat lebih mudah memperkirakan
pengeluaran yang terjadi di masing-masing lokasi. Perusahaan dapat dilihat
sebagai kumpulan divisi yang terpisah menurut lokasi, dimana setiap lokasi
menghasilkan labanya sendiri. Bagan organisasi seperti yang ditunjukkan dalam
gambar.
4.
Departementalisasi menurut Pelanggan
Beberapa perusahaan membuat
divisi-divisi yang terpisah berdasarkan jenis pelanggannya. Sebagai contoh,
beberapa maskapai penerbangan memiliki divisi-divisi reservasi terpisah yang
sepenuhnya memusatkan diri pada perjalanan-perjalanan kelompok.
Perusahaan-perusahaan komputer seperi misalnya Dell telah menunjuk beberapa
orang tenaga penjualan untuk sepenuhnya memusatkan diri pada penjualan komputer
ke lembaga-lembaga pendidikan. Mereka juga memiliki beberapa devisi yang
memusatkan diri pada penjualan pribadi secara online, sedangkan yang lainnya memusatkan diri pada pelanggan
perusahaan besar.
2.6.
Koordinasi
dan Rentang Manajemen
A.
Koordinasi
Koordinasi (coordination) adalah proses pengintegrasian tujuan-tujuan dan
kegiatan-kegiatan pada satuan-satuan yang terpisah (departemen atau
bidang-bidang fungsional) suatu organisasi untuk mencapai tujuan organisasi
secara efisien.
Tanpa koordinasi,
individu-individu dan departemen-departemen akan kehilangan pegangan atas
peranan mereka dalam organisasi. Pencapaian tujuan organisasi secara
keseluruhan.
B. Kebutuhan
akan Koordinasi
Menurut James D. Thompson, ada
tiga macam saling ketergantungan di antara satuan-satuan organisasi, yaitu:
1.
Saling
ketergantungan yang menyatu (pooled
interdependence) bila satuan-satuan organisasi tidak saling tergantung satu
dengan yang lain dalam melaksanakan kegiatan harian tetapi tergantung pada
pelaksanaan kerja setiap satuan yang memuaskan untuk suatu hasil akhir;
2.
Saling ketergantungan yang berurutan (sequential interdependence), dimana
suatu satuan organisasi harus melakukan pekerjaannya terlebih dahulu sebelum
satuan yang lain dapat bekerja;
3.
Saling
ketergantungan timbal balik (reciprocal
interpendence), merupakan hubungan memberi dan menerima antar satuan
organisasi.
C. Kendala
Pencapaian Koordinasi Efektif
Empat perbedaan dalam sikap dan
cara kerja diantara bermacam-macam individu dan departemen-departemen dalam
organisasi yang mempersulit tugas pengkoordinasian bagian-bagian organisasi
secara efektif, yaitu :
1.
Perbedaan
dalam orientasi terhadap tujuan tertentu. Para anggota dari departemen yang
berbeda mengembangkan pandangan mereka sendiri tentang bagaimana cara mencapai
kepentingan organisasi yang baik;
2.
Perbedaan
dalam orientasi waktu. Manajer produksi akan lebih memperhatikan
masalah-masalah yang harus dipecahkan segera atau dalam periode waktu pendek.
Bagian penelitian dan pengembangan lebih terlibat dengan masalah-masalah jangka
panjang;
3.
Perbedaan
dalam orientasi antar pribadi;
4.
Perbedaan
dalam formalitas struktur. Setiap tipe satuan dalam organisasi mungkin
mempunyai metoda-metoda dan standart yang berbeda untuk mengevaluasi program
terhadap tujuan dan untuk balas jasa bagi karyawan;
Mekanisme-mekanisme
pengkoordinasian dasar, yaitu :
1.
Hirarki
manajerial
Rantai perintah, aliran informasi dan kerja,
wewenang formal, hubungan tanggung jawab dan akuntabilitas yang jelas dapat
menumbuhkan integrasi bila dirumuskan secara jelas serta dilaksanakan dengan
pengarahan yang tepat.
2.
Aturan
dan prosedur
Aturan-aturan
dan prosedur-prosedur adalah keputusan-keputusan manajerial yang dibuat untuk
manangani kejadian-kejadian rutin, sehingga dapat juga menjadi peralatan yang
efisien untuk koordinasi dan pengawasan rutin.
3.
Rencana
dan penetapan tujuan
Pengembangan rencana dan tujuan dapat digunakan
untuk pengkoordinasian melalui pengarahan seluruh satuan organisasi terhadap
sasaran-sasaran yang sama. Ini diperlukan untuk mengkoordinasikan
kegiatan-kegiatan satuan-satuan organisasi.
D. Rentang
Manajemen
Prinsip rentang manajemen
berkaitan dengan jumlah bawahan yang dapat dikendalikan secara efektif oleh
seorang manajer atau atasan. Rentang manajemen juga dapat berarti jumlah
bawahan yang secara langsung memberikan laporan kepada seorang manajer
tertentu.
Rentang manajemen sering disebut dengan
istilah span of control, span of
authority, span of attention, atau span of supervision.
Rentang manajemen dan koordinasi
adalah saling berhubungan erat; ada anggapan semakin besar jumlah rentangan
semakin sulit untuk mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan bawahan secara efektif.
Jumlah
rentang ideal
Ada dua alasan utama penentuan
rentangan yang tepat:
1.
Rentang
manajemen mempengaruhi penggunaan efisien dari manajer dan pelaksanaan kerja
efektif dari bawahan mereka. Terlalu lebarnya rentangan dapat berarti bahwa
manajer harus mengendalikan jumlah bawahan yang besar sehingga menyebabkan
tidak efisien;
2.
Ada
hubungan antara rentang manajemen di seluruh organisasi dan struktur
organisasi. Semakin sempit rentang manajemen, struktur organisasi akan
berbentuk “tall” dengan banyak
tingkat pengawasan dengan manajemen puncak dan tingkat paling rendah;
3.
Rentang
manajemen yang melebar akan menghasilkan struktur yang berbentuk “flat” yang berarti tingkatan manajemen
semakin sedikit.
Meskipun para pakar manajemen
bermaksud menemukan jumlah yang pasti tentang rentangan manajemen ideal, tetapi
tidak ada jumlah yang mutlak dapat ditentukan, karena hal ini tergantung pada
banyaknya variabel, seperti besarnya organisasi, teknologi, spesialisasi,
kegiatan-kegiatan rutin, tingkatan manajemen dan sifat-sifat pekerjaan lainnya.
Sebagian besar penulis manajemen
baru menghasilkan pedoman umum melalui penentuan batasan dan menemukan
rentangan yang optimal untuk situasi khusus.
Henry Fayol mengemukakan bahwa
jumlah maksimum bawahan yang dapat dikendalikan oleh setiap pengawas produksi
dalam organisasi adalah 20 sampai 30 karyawan, sedang setiap kepala pengwas (superintendent) dapat mengawasi hanya 3
atau 4 pengawas produksi. Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa jumlah
rentangan adalah antara 3 sampai 8 bawahan dan sebagainya.
V.A graicunas, seorang konsultan
dan ahli matematika perancis, menyatakan bahwa dalam memilih suatu rentangan,
manajer harus mempertimbangkan tidak hanya hubungan satu dengan satu secara
langsung dengan bawahan yang diawasi tetapi juga hubungan mereka dengan bawahan
dalam kelompok dua atau lebih. Jaid, dengan tiga individu, dan dengan tiga
kelompok yang berbeda, yaitu kombinasi dari setiap dua karyawan, dan dengan
kelompok yang terdiri dari ketiganya. V.A graicunas, seorang konsultan dan ahli
matematika perancis, menyatakan bahwa dalam memilih suatu rentangan, manajer
harus mempertimbangkan tidak hanya hubungan satu dengan satu secara langsung
dengan bawahan yang diawasi tetapi juga hubungan mereka dengan bawahan dalam
kelompok dua atau lebih. Jadi, dengan tiga individu, dan dengan tiga kelompok
yang berbeda, yaitu kombinasi dari setiap dua karyawan, dan dengan kelompok
yang terdiri dari ketiganya.
2.7.
Wewenang
dan Jenis Wewenang
A. Pengertian
Wewenang secara bahasa diartikan hak dan kekuasaan untuk
bertindak; kewenangan; kekuasaan membuat keputusan, memerintah, dan melimpahkan
tanggung jawab kepada orang lain.
Pengertian wewenang adalah kekuasaan atau hak memerintah
atau meminta orang lain berbuat sesuatu dan dibatasi melalui uraian tugasnya
sesuai dengan fungsi dan kedudukan staf dalam sebuah organisasi.
Definisi wewenang yang dikemukakan para ahli manajemen ialah
sebagai berikut:
1.
Menurut Louis A. Allen dalam
bukunya, Management and Organization. Wewenang
adalah jumlah kekuasaan (powers) dan
hak (rights) yang didelegasikan pada
suatu jabatan.
2.
Menurut Harold Koontz dan Cyril
O’Donnel dalam bukunya, The Principles of
Management Authority adalah suatu hak untuk memerintah / bertindak.
3.
Menurut G. R. Terry, wewenang adalah
kekuasaan resmi dan kekuasaan pejabat untuk menyuruh pihak lain supaya
bertindak dan taat kepada pihak yang memiliki wewenang itu.
4.
Menurut R. C. Davis dalam bukunya, Fundamentals of Management, wewenang adalah hak yang cukup, yang memungkinkan
seseorang dapat menyelesaikan suatu tugas/kewajiban tertentu.
Jadi, wewenang adalah dasar untuk
bertindak, berbuat dan melakukan kegiatan/aktivitas perusahaan. Tanpa wewenang
orang-orang dalam perusahaan tidak dapat berbuat apa-apa.
B. Jenis
Wewenang
Wewenang terbagi atas tiga jenis :
1.
Line Authority (wewenang
lini), wewenang manajer yang bertanggung jawab langsung, diseluruh rantai
komando organisasi, untuk mencapai sasaran organisasi;
2.
Staff Authority (wewenang
staf), wewenang kelompok, individu yang menyediakan saran dan jasa kepada
manajer lini;
3.
Functional Authority
(wewenang fungsional), wewenang anggota staf departemen untuk mengendalikan
aktivitas departemen lain karena berkaitan dengan tanggung jawab staf spesifik.
2.8.
Delegasi
Delegasi secara umum didefinisikan tindakan memberikan
wewenang dan tanggung jawab formal untuk menyelesaikan aktivitas spesifik
kepada bawahan.
Definisi delegasi menurut para ahli :
1.
Menurut Ralph C. Davis Pendelegasian
wewenang hanyalah tahapah dari suatu proses ketika penyerahan wewenang
berfungsi melepaskan kedudukan dengan melaksanakan pertanggung jawaban.
2.
Menurut Louis A. Allen,
Pendelegasian adalah proses yang diikuti oleh seorang manajer dalam pembagian
kerja yang ditimpakan padanya, sehingga ia dapat memperoleh orang-orang lain
untuk membantu pekerjaan yang tidak dapat ia kerjakan.
2.9.
Sentralisasi dan Desentralisasi
Sebuah
perusahaan harus memutuskan bagaimana mendistribusikan wewenang untuk melakukan
pengambilan keputusan di antara posisi-posisi jabatan. Pendistribusian wewenang
sering kali dinyatakan dengan apakah perusahaan tersebut merupakan perusahaan
yang tersentralisasi atau terdesentralisasi.
A.
Sentralisasi
Sentralisasi maksudnya adalah sebagian besar
wewenang/kekuasaan masih tetap dipegang oleh manajer puncak. Dalam perusahaan
yang tersentralisasi, manajer tingkat menengah dan supervisior bertanggung
jawab atas tugas sehari-hari dan memberikan laporannya kepada manajer puncak,
tetapi mereka tidak diperkenankan untuk banyak mengambil keputusan.
B.
Desentralisasi
Desentralisasi yaitu wewenang
disebar di antara beberapa divisi atau manajer. Salah satu bentuk yang paling
ekstrem adalah otonomi, dimana divisi-divisi diizinkan untuk melakukan
pengambilan keputusannya sendiri dan bertindak secara independen.
BAB III
KESIMPULAN
Fungsi pengorganisasian meliputi organisasi karyawan dan
sumberdaya-sumberdaya lainnya melalui cara yang konsisten dengan tujuan
perusahaan. Setelah tujuan perusahaan dibuat (dari fungsi perencanaan), sumber
daya akan diperoleh dan dikelola untuk mencapai tujuan tersebut.
Fungsi pengorganisasian terjadi secara kontinu pada sepanjang hidup
perusahaan. Fungsi ini khususnya memiliki arti penting bagi perusahaan yang
sering melakukan restrukturisasi atas operasinya. Perubahan-perubahan
operasional seperti misalnya penciptaan jabatan baru ataupromosi seorang
karyawan dapat sering dilakukan. Perubahan-perubahan seperti ini bahkan dapat
menyebabkan perlunya dilakukan revisi pada alokasi pekerjaan karyawan yang
jabatannya tidak berubah
Untuk menggambarkan betapa pentingnya arti fungsi pengorganisasian, kita
lihat sebuah perusahaan konstruksi yang membangun sebuah perumahan. Kontraktor
umum ini memberikan tugas kepada para karyawannya. Dari pekerjaan pembuatan
fondasi hingga pengecatan, sebagian besar tugas harus diselesaikan dalam urutan
tertentu. Karena keseluruhan tugas tidak dapat diselesaikan secara bersamaan,
para pekerja kontraktor akan bekerja pada beberapa rumah yang berbeda. Dengan
cara ini karyawan dapat menerapkan keahlian khusus mereka (seperti misalnya
pengecatan, listrik, dan seterusnya) pada rumah-rumah yang berada pada tahapan
kostruksi yang tepat.
DAFTAR
PUSTAKA
Madura, Jeff. Pengantar
Bisnis edisi 4 (Penyadur, Ali Akbar Yulianto dan Krista). Jakarta: Salemba
Empat, 2009.
Bowo PK, Arif. “Pengorganisasian,” dalam Modul
Pengantar Manajemen, 2008.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar